Kedokteran Forensik Kembali Unjuk Gigi

Oleh : Seto Adiantoro S. Dokter Gigi Mahasiswa PPDGS Bedah Mulut FKG Unpad

Dentamedia No.1 Vol.7 : Januari-Maret 2003

Meledaknya bom di Bali yang menewaskan korban ratusan jiwa tiba-tiba telah menyegarkan kembali ingatan orang tentang pentingnya ilmu kedokteran gigi forensik yang nyaris terlupakan. Kedokteran Gigi Forensik (Odontologi Forensik) tergolong ilmu yang sudah lama, akan tetapi kurang populer, sehingga banyak masyarakat juga kalangan dokter gigi yang masih awam terhadap keberdaan ilmu ini.
Dari segi istilah Odontologi Forensik merupakanperpaduan anatara Bahasa Romawi dan Yunani yang berarti ilmu tentang gigi untuk kepentingan peradilan. Keiser Nielsen (1970) mendefinisikan ilmu ini sebagai bagian dari ilmu kedokteran gigi yang meneiliti bukti-bukti kejahtan yang ada hubungannya dengan gigi geligi, kemudian dinilai dan dilaporkan untuk proses peradilan. Paderson (1969) mengatakan bahwa Kedokteran Gigi Forensik adalah bagian dari ilmu kedokteran gigi yang berhubungan dengan penilaian dan penemuan-penemuan kedokteran gigi untuk kepentingan peradilan, sementara Furuhata dan Yamamoto (1967) menyebutkan bahwa kedokteran gigi forensik adalah cabang dari ilmu kedokteran kehakiman yang menggunakan pengetahuan kedokteran gigi dalam memecahkan masalah hukum dan kejahatan.
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kedokteran gigi Forensik tidak hanya terbatas pada proses identifikasi melalui gigi geligi saja tapi juga meliputi kasus-kasus yang diakibatkan oleh dental injury, dental malpraktek, serta kasus penipuan dalam bidang kedokteran gigi.
Gigi geligi pertama kali digunakan sebagai sarana identifikasi pada tahun 1477 pada kasus mayat tidak dikenal yang kemudian diidentifikasikan sebagai Charles The Bold, tahun 1776 mayat Jenderal Joseph Waren dikenali dari gigi tiruannya yang dipasang oleh Paul Revere, begitu pula dengan mayat Adolf Hitler yang terbakar habis di temapat persembunyiannya.
Di Indonesia kasus yang diungkap dengan bantuan Kedokteran Gigi Forensik selain kasus bom Bali adalah kasus pembunuhan Gina di Los Angeles oleh teman senegaranya yang kini telah divonis mati.
Gigi geligi dipakai sebagai alat identifikasi karena adanya perbedaan yang sangat khas dari gigi geligi tiap orang, baik bentuknya, susunannya, oklusinya, maupun adanya hasil restorasi pada gigi geligi tersebut seperti tambalan dan gigi palsu. Selain itu gigi geligi juga mempunyai daya tahan lebih besar dibanding organ lain terhadap kerusakan akibat kematian dan kecelakaan; penelitian menunjukkan perlu sushu sangat tinggi sekali untuk meribah gigi menjadi abu.
Namun yang penting untuk dicermati adalah belum adanya kebiasaan dari dokter gigi Indonesia untuk membuat rekam medik pasien dengan lengkap, sehingga bila ada kasus yang perlu penanganan kedokteran gigi forensik, akan sangat sulit mencari rekam medik yang bisa dijadikan acuan pembanding.

Tidak ada komentar:

 
Hak cipta copyright © 1997-2018 Dentamedia, isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya
© free template by Blogspot tutorial