Dokter Gigi Selalu Menjadi Orang Kedua?

Oleh : Lusi Epsilawati
Dokter Gigi Puskesmas Mujur Lombok Tengah

Dentamedia No.2 Vol.5 : April-Juni 2001

Tertarik dengan artikel yang di buat sejawat Septia Indriasari dalam DENTAMEDIA No.1 Vol.5 yang menceritakan betapa ”bagusnya” Puskesmas tempat sejawat bertugas. Memang betul begitu adanya, Puskesmas tempat saya bertugaspun yang berada di Provinsi yang sama kurang lebih seperti itu kondisinya, berkeramik, dengan peralatan cukup lengkap bahkan di tempat saya ada alat rongent dan fasilitas UGD yang terbilang cukup moderen; padahal lokasinya 30 Km dari Mataram.
Namun di balik semua ”kementeregan itu” ada satu yang tak boleh dilupakan yaitu pandangan masyarakat dan ”sejawat” di luar profesi dokter gigi terhadap doktewr gigi yang kurang begitu mengembirakan. Masyarakat lebih suka datang ke tukang gigi karena selain lebih murah juga lebih cepat kerjanya dibanding dokter gigi yang dianggap terlalu banyak prosedur sehingga bahkan ada yang berujar ”Ibu Dokter Bodo, kerjanya lama”, yang lebih menyakitkan adalah sikap ”sejawat” yang selalu menganggap dokter gigi orang ke dua bahkan dianggap sederajat dengan profesi paramedis sehingga tidak pernah dipercaya menjadi pimpinan Puskesmas, bila dokter umumnya tidak ada maka dirangkap oleh dokter umum Puskesmas tetangga.
Bahkan dalam sebuah pertemuan seorang ”sejawat” pernah mengatakan bahwa di Puskesmas sebenarnya tidak diperlukan dokter gigi, cukup hanya perawat gigi. Menyedihkan bukan? Tapi apa hendak dikata itulah kenyataannya, untuk mendebat selalu kalah suara karena se-Kabupaten dokter giginya hanya 5 sehingga selalu kalah suara. Satu-satunya cara agar orang lain menghargai kita adalah harus ditunjukan prestasi kerja yang optimal, oleh karena itu calon dokter gigi dan dokter gigi muda yang akan dikirim ke daerah agar tidak selalu menjadi orang ke dua hendaknya mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan berbagai kemampuan diluar ilmu kedokteran gigi seperti kemampuan manajemen dan kemampuan memahami aneka penyakit umum sehingga bisa mengerti bila diajak diskusi oleh dokter umum, itulah jalan satu-satunya, jangan berharap ada bantuan dari orang lain ataupun lembaga lain, organisasi macam PDGI, pengurusnya apalagi yang nun jauh di Jakarta sana tidak akan memperhatikan kita-kita yang ada di daerah.

Tidak ada komentar:

 
Hak cipta copyright © 1997-2018 Dentamedia, isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya
© free template by Blogspot tutorial