Perlu Kesabaran dan Ketekunan dalam Membina Pasien

Oleh : Arief Lesmana Dokter Gigi Puskesmas Gandrungmangu Cilacap

Dentamedia No.3 Vol.5 : Juli-September 2001

Ketika pertama kali datang ke tempat bertugas-sebuah Puskesmas yang terletak 45 Km dari Kota Cilacap sangat terasa tanggapan masyarakat masih belum ada terhadap kehadiran dokter gigi di daerah mereka, dalam bulan pertama hanya ada 5 orang pasien yang datang. Kenyataan seperti ini tentu sering dialami oleh dokter gigi lain dimanapun mendapat penugasan.
Menghadapi hal seperti ini sebagai seorang dokter gigi yang memikul tanggung jawab untuk merawat kesehatan gigi sekelompok warga masyrakat tentu tidak bisa tinggal diam, perlu dicari penyebabnya dan dipikirkan solusi pemecahannya.
Ternyata telah 3 tahun di Puskesmas tempat saya bertugas tidak ada dokter giginya, sehingga masyarakat sudah memiliki pilihan lain dalam merawat kesehatan giginya. Oleh karena itu dalam menghadapi situasi seperti ini yang pertama harus dilakukan adalah memberitahukan kepada masyarakat bahwa kini di Puskesmas telah ada dokter giginya, melalui berbagai macam cara. Cara pertama adalah dengan membuat pengumuman di Puskesmas bahwa kini menerima perawtan gigi, kemudian dalam setiap kesempatan pertemuan, baik itu posyandu, rapat mingguan, dan lain-lain diberitahukan bahwa kini di Puskesmas telah ada dokter giginya.
Rangkaian publikasi diatas diimbangi denagn penyiapan tempat praktek yang prima, alat-alat dan obat –obatan disiapkan dan dilengkapi sehingga semua pasien akan terlayani, tidak boleh ada yang pulang dengan kecewa karena peralatannya tidak lengkap atau obat/bahannya tidak ada.
Alhamdulilah dengan cara seperti itu setelah 2 tahun pasien gigi puskesmas saya meningkat menjadi sekitar 180 perbulan, tapi untuk mencapai angka itu perlu waktu dan perhatian yang terus menerus dan tidak semudah seperti membalikan telapak tangan. Pernah saya cuti selama 1 minggu, begitu kembali praktek, pasien berkurang sangat drastis sehingga bisa disimpulkan bahwa tempat praktejk jangan ditinggalkan terlalu lama karena pasien yang telah dibina dengan susah payah bisa hilang begitu saja denagn mudahnya.
Setelah jumlah pasien cukup memuaskan barulah dipikirkan deversifikasi pelayanan agar yang datang tidak hanya dicabut saja. Kepada pasien-pasien langganan mulai ditawarkan dan diberi pengertian untuk mau menambal giginya, membersihkan karang gigi, membuat gigi palsu, bahkan perawatan ortho. Pada awalnya sebagian dari mereka mau mencoba, setelah satu kali berhasil biasanya untuk perawatan selanjutnya praktis tidak ada masalah, dan kerap kali keberhasilan ini akan diceritakan pasien kepada orang lain, sehingga secara tidak langsung kita mempunyai tenaga penyuluh baru.
Secara bertahap kini pasien di Puskesmas tempat saya bertugas tidah hanya dicabut saja giginya, ada yang ditambal, dibuat gigi palsu, dibersihkan karang gigi, bahkan saya telah punya 3 orang pasien ortho yang diaktifir tiap minggu.
Ternyata tempat praktek yang semula kelihatan tidak laku dan tidak berprospek dengan berbagai usaha dapat dijadikan tempat praktek yang ramai dikunjungi pasien. Tapi untuk mewujudkan itu semua tidaklah mudah, diperlukan kesabaran dan ketekunan.

1 komentar:

Wienk Ayue mengatakan...

Untuk tambal gigi biaya berapa ya dok n tahan berapa lama

 
Hak cipta copyright © 1997-2018 Dentamedia, isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya
© free template by Blogspot tutorial