Rekonstruksi Tantangan PDGI Pasca Kongres Makassar

Oleh : Rustan Ambo Asse
Ketua Dewan Mahasiswa Profesi FKG Universitas Hasanuddin

Dentamedia No.3 Vol.9 : Juli-September 2009
Pendahuluan
Salah satu prasarat mutlak sebuah organisasi adalah keberadaan visi dan misi yang terencana sertamampu memberikan solusi pada setiap permasalahan yang timbul. Hal ini berlaku pula untuk PDGI, sebuah organisasi satu-satunya untuk dokter gigi yang dimata masyarakat dipandang sebagai pangkal harapan perubahan pada dunia kedokteran gigi Indonesia.
Kongres PDGI ynag dilakukan di Makassar tanggal 20-23 Maret 2005 adalah sarana yang dapat digunakan untuk merumuskan strategi penguatan peran PDGI melalui rekontruksi pemahaman keberadaan PDGI serta optimalisasi kinerja organisasi baik pada tingkatan pusat maupun daerah.
Problem Kultural
Masyarakat pada umumnya masih menganggap kesehatan gigi dan mulut sebagai sebuah “kesehatan sekunder” dibandingkan dengan kesehatan yang lain. Padahal sehat seharusnya tidak mengalami deviasi makna bila konsisten dengan prinsip Indonesia Sehat 2010. Konsisten dalam artian bahwa semua penyakit harus disembuhkan.
Advokasi PDGI pada problem cultural ini belum maksimal karena PDGI kurang dalam pendampingan masyarakat umum. Masalah ini sepintas terlihat sederhana, tetrapi tidak demikian sebenarnya, diperlukan upaya sosialisasi terus-menerus melalui sarana berbagai media agar terjadi perubahan sikap masyarakat dalam memandang kesehatan gigi dan mulut.
Relasi Organisasi Profesi
Organisasi yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bukan hanya PDGI, ada AFDOKGI, Asosiasi RSGM, PSMKGI, serta beberapa LSM. Konsolidasi anatar organisasi sangat diperlukan untuk mewujudkan visi bersama yang dapat menjadi dasar bagi terciptanya sinergi antar organisasi.
PDGI sebagai organisasi dengan cakupan keanggotaan terbesar memiliki posisi yang sangat strategis, sehingga adalah pada tempatnya apabila PDGI menjadi arus utama dalam kerjasama antar organisasi, melalui penciptaan momentum tertentu yang dapat menjadi sarana terbangunnya sebuah kerjasama.
Problem Kontemporer
Banyak problem kontemporer yang menjadi PR dokter gigi, diantaranya adalah kesempatan kerja bagi dokter gigi muda. Kebijakan baru tentang dokter PTT yang desentralisasi saat ini telah menjadikan kesejahteraan dan kepastian masa depan dokter gigi muda semakin tidak jelas.
Permasalahan lain adalah standar kompetensi yang merupakan patokan bagi FKG-FKG dalam menyusun kurikulum. Dengan makin derasnya arus informasi, perlu dipikirkan mekanisme yang dapat menjamin kondisi dunia pendidikan yang selalu berada di depan bila disbanding dengan kondisi praktis di lapangan.
RSGM
Keberadaan RSGM sampai saat ini belum memiliki pondasi yang kokoh dari sudut legalitas, di beberapa daerah masih banyak unsure Pemda yang beretensi terhadap keberadaan RSGM. Kondisi ini perlu diadvokasi oleh PDGI agar keberadaan 11 RSGM diseluruh Indonesia jumlahnya tidak berkurang, tetapi malah harus bertambah.
RSGM dimasa datang harus didorong untuk menjadi komponen utama perkembangan ilmu kedokteran gigi, sebagai pusat perubahan, khususnya dalam peningkatan kualitas keilmuan dan profesionalisme dokter gigi.
Manajemen Organisasi
Kordinasi adalah syarat mutlak dari organisasi, untuk itu PDGI sebagai organisasi yang sudah cukup tua memerlukan penguatan pada aspek ini. Kondisi geografis Indonesia yang begitu luas memang sangat menyulitkan dalam pengkoordinasian organisasi baik pada tingkat pengurus wilayah maupun pengurus cabang. Pemanfaatan teknologi informasi adalah salah satu jalan yang paling masuk akal untuk mengefektifkan koordinasi tanpa perlu keluar banyak pengorbanan.
Bila koordinasi telah berjalan dengan lancer, maka persoalan dokter gigi dimanapun berada, dapat dengan mudah dicarikan solusinya, karena lebih banyak kepala yang memikirkannya.
Mahasiswa
Mahasiswa kedokteran gigi merupakan tunas muda yang akan menjadi unsure utama dalam proses regenerasi dalaman tubuh PDGI. Maka adalah sangat strategis apabila PDGI aktif melakukan pembinaan bagi para mahasiswa sebagai sebuah upaya regenerasi. Caranya bisa melalui organisasi kemahasiswaan yang telah ada saat ini, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa di tiap FKG atau organisasi tingkat nasional seperti Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI).

Tidak ada komentar:

 
Hak cipta copyright © 1997-2018 Dentamedia, isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya
© free template by Blogspot tutorial